Habibie Sempat Tak Tertarik dengan Politik

Habibie Sempat Tak Tertarik dengan Politik
BJ Habibie dalam dialog kebangsaan di LIPI, Jakarta Selatan. | FOTO: Istimewa

JAKARTA, PEDOMANMAKASSAR.com – Presiden ke-3 RI BJ Habibie sempat curhat soal masa lalunya, termasuk kariernya di bidang politik di suatu acara tentang dialog kebangsaan yang bertajuk ‘Mengelola Keberagaman, Meneguhkan Keindonesiaan’ yang diselenggarakan LIPI, Semasa mudanya Habibie mengaku tidak tertarik dengan dunia politik. Dia lebih tertarik untuk meningkatkan kualitas kehidupannya dan keluarga dibanding mengurus persoalan politik.

“Waktu saya umur 18, saya enggak peduli dengan politik. I’m not interest. Saya tertarik untuk tingkatkan kualitas kehidupan saya, keluarga saya saja,” kata Habibie di Auditorium LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (15/8).

Menurutnya, tiap manusia memiliki siklus hidup yang jelas, mulai dari mencari hidup dan bagaimana mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, dia mengingatkan manusia juga membutuhkan bahasa. Dalam hal ini adalah bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu.

“Kita bersyukur memiliki bahasa tunggal, bahasa Indonesia. Kriteria kedua perilaku manusia itu, perilaku produktivitasnya, daya saingnya bisa membuat inovasi dan itu berdasarkan perilaku. 300 ribu tahun homo sapiens, berarti otak saya dan otak anda sama. Jadi kita seharusnya memiliki pemikiran yang sama kan,” paparnya.

Dia mengingatkan tamu undangan yang hadir untuk mengelola sumber daya dan kelebihan yang dimiliki Indonesia. Dengan begitu, masyarakat bisa dengan mudah memanfaatkan segala aspek yang dimiliki Indonesia, mulai dari ilmu pengetahuan dan IPTEK yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai modal penting bagi Indonesia untuk berkembang.

“Tapi berkembang yang bagaimana? Berkembang yang tentunya selaras dengan keberagaman, keberagaman yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Habibie juga ingin agar proses budaya dan pendidikan dalam keluarga dilakukan dengan maksimal. Sebab, menurutnya, pendidikan dan penentuan kualitas manusia Indonesia dapat dimulai dari hal yang paling mudah, yaitu keluarga.

“Seperti saya mulai itu di keluarga saya. Bukan hanya nilai ilmu pengetahuan saja, tapi juga nilai memahami perbedaan karena bahaya kalau anak-anak itu tak tahu apa indahnya sebuah perbedaan,” tutupnya.

Habibie juga berkesempatan menceritakan aktivitas rutinnya saat ini. Ia mengaku bekerja hingga pukul 3 pagi, membacakan surat Yasin untuk almarhum istrinya, Ainun, tahlil, dan baca Al-Quran sebanyak dua juz.

“Tadi malam saya tidurnya jam 3, saya kerja. Saya kan baca yasin buat Ibu Ainun, setelah itu saya tahlil, baca dua juz juga. Tiap malam itu saya lakukan. Saya buat (pesawat) R-80 juga,” bebernya.

Kpr/SAFdee