BI : Peran Syariah Potensial Mengatasi Berbagai Masalah Kesenjangan Dan Distribusi Pendapatan

BI : Peran Syariah Potensial Mengatasi Berbagai Masalah Kesenjangan Dan Distribusi Pendapatan
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, saat meninjau both-both pameran UMKM seusai membuka kegiatan Fesyar 2017, di Hotel The Rinra, Jalan Metro Tanjung, Jumat, 25/8/2017.| FOTO: Muh. Trisusanto

MAKASSAR, PEDOMANMAKASSAR.com – Momen Festival Syariah (Fesyar) yang digelar Bank Indonesia (BI) akan menjadi momentum yang tepat dalam mensosialisasikan secara ekslusif dan detail mengenai peran syariah yang sangat potensial mengatasi berbagai masalah kesenjangan dan distribusi pangan yang masih awam diketahui berbagai lapisan masyarakat.

Momen tersebut, dinilai sangat sakral karena melihat masih rendahnya literasi dan inklusi peran ekonomi syariah di Indonesia, dimana hal itu, juga karena masih terbenturnya anggapan dan paradigma yang telah melekat pada masyarakat, bahwa syariah hanya untuk islam saja dan hanya mencakup seputar halal dan haramnya saja.

Padahal, peran ekonomi syariah, adalah konsep yang inklusif yang secara aktif melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam pergerakan roda perekonomian negara.

Bukan hanya itu, konsep prinsip-prinsip syariah juga menjunjung kebersamaan dan keadilan dan menganut keseimbangan dalam pengelolaan sumber daya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan, hal besar dan manfaat besar yang terkandung dalam peran syariah inilah yang harus terus digalakkan dan diimplementasikan dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor.

Apalagi, masyarakat Indonesia merupakan mayoritas pemeluk islam, dimana dalam kesehariannya saja telah melibatkan unsur-unsur syariah tanpa disadarinya secara langsung, baik mengenai makanan, fashion, dan lainnya.

Bahkan, nilai-nilai syariah ini juga telah dirumuskan oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) yang ditujukan menjaga kelestarian dan kesinambungan hidup masyarakat dunia internasional.

Tak hanya itu, dalam tataran global, kinerja ekonomi syariah dunia memperlihatkan pertumbuhan yang sangat pesat. Tercatat, pada 2015 lalu saja, volume industri halal global mencapai USD 3,84 triliun dan diprediksi akan meningkat sebesar USD 6,38 triliun pada 2021 nanti.

“Karena itu, Indonesia sebagai negara yang sangat potensial harus lebih memperkuat andilnya lagi dalam pengembangan sistem-sistem ekonomi syariah, dimana, hasil imbasnya akan berfungsi menjadi mesin roda penggerak baru untuk pembangunan Indonesia,” katanya saat membuka kegiatan Fesyer 2017, di Hotel The Rinra, Jalan Metro Tanjung, Jumat, 25/8/2017.

Mengenai industri keuangan dalam skala kancah global sendiri, kata Perry, saat ini Indonesia hanya menempati peringkat ke-10. Padahal, posisi Indonesia secara umum lebih merupakan pasar produk halal terbesar, khususnya pasar makanan halal.

Bahkan, pasar produk halal inilah menjadi penyumbang volume terbesar dalam pasar global dengan kontribusi mencapai USD 160 miliar pada 2015 lalu.

Kondisi ini, menunjukkan betapa kuatnya potensi Indonesia dalam pasar produk halal. Namun, potensi ini juga bisa menjadi ancaman, jika ternyata kebutuhan produk halal tersebut, tidak dapat lagi terpenuhi secara domestik, sehingga akan berimplikasi terhadap besarnya impor yang akan menekan posisi neraca pembayaran Indonesia.

“Hal ini, tentunya akan mengancam ketahanan perekonomian nasional. Karena itu, peran syariah di berbagai sektor sangat penting dan sudah saatnya diimplementasikan secara lebih baik lagi dibanding tahun sebelumnya,” katanya.

Wia rock/Marwiah Syam