Berdayakan Potensi Syariah Di Indonesia, BI Rancang Tiga Pilar Pendongkrak

Berdayakan Potensi Syariah Di Indonesia, BI Rancang Tiga Pilar Pendongkrak
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Muh. Anwar Bashori (kedua kanan) bersama pakar ekonomi syariah, Profesor Halide (kedua kiri) dan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulsel, Mukhlis Sufri (kiri) disela-sela Talkshow Fesyar Mendorong Pengembangan Islamic Socia Finance Dalam Rangka Mewujudkan Masyarakat Sejahtera, di Hotel The Rinra, Jalan Metro Tanjung, Jumat, 25/8/2017 | FOTO: Muh Trisusanto MS

MAKASSAR, PEDOMANMAKASSAR.com – Bank Indonesia berkolaborasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Bappenas merancang tiga pilar program sebagai pendongkrak pengembangan pemberdayaan ekonomi dan keuangan syariah yang komprehensif, integratif, efektif, dan efisien.

Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Muh. Anwar Bashori, mengungkapkan,  pilar tersebut, diperlukan sebagai strategi dan kebijakan dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia yang nantinya akan didiskusikan pada pertemuan Dewan Pengarah Komite Nasional Keuangan Syariah.

Pilar ini sendiri, menitikberatkan pada sektoral usaha syariah, melalui penguatan seluruh kelompok pelaku usaha, baik besar, menengah, kecil, mikro, serta kalangan lembaga pendidikan islam, seperti pesantren. Pilar utama ini mencakup pengembangan halal supply chain, serta kelembagaan dan infrastruktur pendukungnya.

Kemudian, pilar kedua mencakup pendalaman pasar keuangan syariah, dimana hal ini ditujukan untuk merefleksikan upaya peningkatan manajemen likuiditas, dan pembiayaan syariah, guna pengembangan usaha syariah.

Sementara, pilar ketiga mencakup penguatan riset, asesmen dan edukasi, termasuk sosialisasi dan komunikasi yang ditujukan sebagai landasan bagi tersedianya sumber daya insani yang handal, profesional, dan berdaya saing internasional.

“Dengan tiga strategi ini, diharap pemberdayaan syariah lebih tinggi lagi kedepannya. Tapi, sejalan dengan hal itu kami juga akan lebih meningkatkan pemahaman (literasi) masyarakat lagi, agar semakin berpartisipasi aktif dalam hal ini. Apalagi, pemahaman mereka mengenai syariah masih terbatas,” katanya disela-sela Talkshow Fesyar Mendorong Pengembangan Islamic Socia Finance Dalam Rangka Mewujudkan Masyarakat Sejahtera, di Hotel The Rinra, Jalan Metro Tanjung, Jumat, 25/8/2017.

Terlepas dari tiga pilar yang dirancang tersebut, pihaknya belum menitikberatkan target pencapaian ekonomi dan keuangan syariah kedepannya, karena lebih memfokuskan pada implementasi strategi dan perubahan paradigma dan pemahaman pada masyarakat mengenai syariah saat ini.

“Apalagi, posisi Indonesia sangat potensial diberdayakan ekonomi syariah di berbagai sektor, bukan hanya keuangan syariah saja. Tapi, juga mencakup bisnis, dan sektor-sektor lainnya. Contoh kecil, Dubai saat ini menjadi negara terkaya dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia, karena memberdayakan ekonomi syariahnya di berbagai sektor,” katanya.

Wia rock/Marwiah Syam.