Kementerian Perdagangan RI Bersama Perindag Sulsel Gelar Bimtek Bagi Petani Lada di Sulsel

Kementerian Perdagangan RI Bersama Perindag Sulsel Gelar Bimtek Bagi Petani Lada di Sulsel
Kementerian Perdagagan RI bersama Disperindag Sulsel dan instansi terkait melakukan Bimbingan Teknis Upaya Mendorong Potensi Ekspor Lada Melalui Informasi Pasar Serta Daya Saing Produk pada sejumlah petani lada di Sulsel, di Hotel Four Points Makassar, Jalan Landak Baru, Selasa, 19/9/2017 | FOTO: Muh. Trisusanto MS

MAKASSAR, PEDOMANMAKASSAR.com – Kementerian Perdagangan RI bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel dan Asosiasi terkait melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) pada sejumlah petani lada di Sulsel sebagai upaya mendorong potensi ekspor dan daya saing lada di kancah internasional.

Hal tersebut, dilakukan karena melihat tingginya persaingan ekspor dan banyaknya potensi dan peluang terhadap hasil bumi yang ada di Sulsel, khususnya lada ke berbagai pasar di internasional

Apalagi, peningkatan ekspor lada selama periode 2012-2016 mengalami trend positif sebesar 5,01 persen.

Bahkan, pada 2016 lalu, ekspor lada memberikan kontribusi sebesar 0,3 persen terhadap total ekspor non migas di Indonesia, dimana ekspor lada ini didominasi lada hitam sebesar USD 220,6 juta dan lada putih dengan kontribusi USD 187,1 juta.

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Tuti Prahastuti, mengungkapkan, dengan melihat potensi tersebut, pihaknya bersama Perindag Sulsel akan lebih mengupayakan dan lebih mengoptimalkan lagi peran petani lada di Sulsel untuk turut lebih berkontribusi pada ekspor pasar intenasional.

Apalagi, negara tujuan ekspor lada semakin menunjukkan trend positif. Seperti, negara tujuan ekspor Vietnam yang tercatat selama periode 2012-2016 andil sebesar 12,26 persen.

Selain Vietnam, juga beberapa negara lainnya yang berkontribusi, seperti USA, India, Singapura, Belanda, Jerman, Jepang, Malaysia, China, Perancis dan yang lainnya

“Hal ini tentunya menggembirakan dan menjadi motivasi tersendiri untuk lebih meningkatkan lagi potensi ekspor dan daya saing lada ke kancah internasional, agar tidak tergerus nantinya. Apalagi, harga lada di Indonesia, baik lada hitam dan putih mengalami trend peningkatan dalam 10 tahun terakhir, yakni 18,04 persen dan 17,89 persen,” katanya saat ditemui usai kegiatan Bimtek Upaya Mendorong Potensi Dan Ekspor Lada Melalui Informasi Pasar, Serta Daya Saing Produk, di Hotel Four Points Makassar, Jalan Landak Baru, Selasa, 19/9/2017.

Managing Director PT Aman Jaya Perdana, Selvieana Aprilia, mengemukakan, sebagai pengekspor, pihaknya sangat mengapresiasi terhadap upaya apa yang dilakukan Kementerian perdagangan RI bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel dalam kegiatan Bimtek dan temu para petani lada tersebut, khususnya dari Luwu.

Hanya saja, dalam hal ini resi gudang perlu disiapkan bagi petani, agar para petani tidak terjebak dengan tengkulak.

“Resi gudang ini juga akan berfungsi jika sewaktu-waktu harga lada turun, jadi tidak akan merugikan dan menyusahkan pihak petani,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Hadi Basalamah, menuturkan, melalui Bimtek tersebut, pihaknya bersama dengan instansi terkait mengemukakan secara terbuka apa-apa saja yang menjadi permasalahan, seperti produktivitas yang semakin rendah, banyaknya petani yang beralih ke komoditi lain, ketidaksiapan peralatan pengeringan, screening, dan pergudangan untuk menghasilkan lada dengan kualitas unggul sesuai standar buyers di luar negeri, dan minimnya promosi dan informasi buyer.

“Belum lagi yang lainnya, seperti munculnya persaingan baru sebagai produsen rempah, seperti Vietnam yang saat ini menjadi produsen lada no. 1 di dunia. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kami bagaimana kedepannya komoditi lada di Indonesia, khususnya lada di Sulsel semakin berdaya saing internasional dan kualitasnya juga diunggulkan di luar negeri. Karenanya, peran dari berbagai instansi terkait dalam hal ini sangat dibutuhkan, karena biar kami setengah mati promosikan, jika para petani yang tidak mau, maka tidak bisa juga eksis,” katanya.

Wia rock/Marwiah Syam.