Ekonom Sulsel : Tingkat Pertumbuhan Sulsel Mulai Mengkhawatirkan

Ekonom  Sulsel : Tingkat Pertumbuhan Sulsel Mulai Mengkhawatirkan

MAKASSAR, PEDOMANMAKASSAR.com – Pengamat Ekonomi Kementerian Keuangan Sulsel, Hamid Paddu, menyebut kondisi pertumbuhan Sulsel mulai mengkhawatirkan. Kondisi tersebut, dikarenakan pembangunan infrastruktur yang stagnan, bahkan mangkrak.

kondisi tersebut, juga dipengaruhi geopolitik, gejolak ekonomi global. Belum lagi nilai ekspor yang merosot, kesenjangan pembangunan infrastruktur antar Kabupaten yang sangat timpang, serta industri pengolahan yang sangat minim.

Menurutnya, potret kondisi tersebut, dapat dilihat diantaranya pembangunan Kereta Api yang stagnan, padahal sudah tiga kali groundbreaking, tapi tidak ada perubahan. Belum lagi, pabrik gula di Camming, Bone yang mangkrak dan sudah mau ditutup karena tidak beroperasi.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Bahkan, dalam lima tahun mendatang pertumbuhan infrastruktur belum bisa diharapkan mendongkrak perkembangan ekonomi, kecuali ada revolusi,” katanya seusai Seminar Forum Ekonom Kementerian Keuangan, APBN 2018, di Hotel Aston, Jl Sultan Hasanuddin, Kamis, 16/11/2017.

Tak hanya itu, kata Hamid, kondisi ini juga semakin diperparah dengan indeks nilai yang dibayarkan petani untuk belanja di berbagai sektor terus melemah, dimana konsekuensinya sangat berdampak pada konsumsi yang semakin tergerus.

“Yang oke hanya nilai inflasinya yang terjaga. Yang lainnya, sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Apalagi, hanya beberapa daerah saja yang baik infrastrukturnya dan hasil komoditinya yang diekspor. Yang lainya masih minim. Tapi, mudah-mudahan tahun depan ada recovery,” katanya.

Sementara, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Adriyanto, Ph. D, mengungkapkan, melambatnya perkembangan ekonomi ini, juga dikarenakan dari perkembangan infrastruktur di Indonesia yang sangat lambat. Bahkan, pertumbuhan infrastruktur di Indonesia saat ini masih dikisaran 40 persen, karena hanya dialokasikan sebesar Rp400 triliun setiap tahunnya.

“Jadi, untuk mengatasi perlambatan tersebut, harus dihalau dengan peningkatan produktivitas disertai pembangunan infrastruktur yang terus digenjot di berbagai daerah, karena itu akan menjadi basis pertumbuhan ekonomi kedepannya,” katanya.

Wia rock/Marwiah Syam