Kementan Matangkan Pengembangan Tebu, Pasok Bahan Baku Bioetanol Nasional
0 menit baca
Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) mematangkan pengembangan tebu dari hulu guna memastikan ketersediaan bahan baku bioetanol nasional secara berkelanjutan. Langkah tersebut dilakukan melalui penyiapan areal, peningkatan produktivitas, dan penguatan sinergi lintas sektor sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan tebu menjadi salah satu komoditas utama yang akan dikembangkan untuk mendukung industri bioetanol. Pemerintah menargetkan pengembangan areal tebu hingga sekitar 1 juta hektare dengan mengoptimalkan potensi lahan yang tersedia.
“Yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare,” kata Mentan Amran dalam Koordinasi Program Pemerintah bioetanol, Senin (21/9).
Mentan Amran menegaskan pengembangan bioetanol tidak hanya dilakukan melalui penambahan areal, tetapi harus dibarengi kesiapan bahan baku dan industri pengolahan. Karena itu, pemerintah mengonsolidasikan berbagai pihak agar pengembangan tebu dapat dilakukan secara terintegrasi.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto mengatakan pengembangan tebu dilakukan dengan pendekatan hulu yang terukur. Menurutnya, penambahan areal harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan kesiapan industri agar pasokan bahan baku bioetanol dapat terjaga secara berkelanjutan.
“Pengembangan tebu tidak semata-mata mengejar luasan, tetapi memastikan areal yang dikembangkan sesuai, produktif, dan mampu mendukung ketersediaan bahan baku untuk pengembangan bioetanol,” kata Heru dalam Rapat Pembahasan Pengembangan dan Perluasan Areal Tebu untuk Penyediaan Pabrik Bioetanol di Bogor, Sabtu (19/9).
Heru mengatakan Kementan memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menyelaraskan kesiapan areal, pengembangan budidaya, produktivitas, ketersediaan bahan baku hingga kebutuhan industri bioetanol.
“Prinsipnya, kita ingin pengembangan tebu dilakukan secara terukur dan terintegrasi dari hulu, sehingga peningkatan areal berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan kesiapan industrinya,” jelasnya.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui sinergi dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN), PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Perum Perhutani, Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), serta pihak terkait lainnya.
Kementan memetakan potensi pengembangan tebu hingga sekitar 700 ribu–1 juta hektare, dengan potensi produktivitas bioetanol sekitar 6 ribu liter per hektare. Penyiapan areal tetap memperhatikan kesesuaian lahan dan aspek lingkungan.
Pengembangan bioetanol tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan agar potensi sumber daya pertanian dan perkebunan dalam negeri dioptimalkan menjadi sumber energi, sehingga Indonesia semakin mampu memenuhi kebutuhan energinya dari sumber daya domestik.
Sejalan dengan arahan Presiden, Kementan mematangkan pengembangan bioetanol dari sisi hulu melalui penyiapan lahan, peningkatan produktivitas, dan penguatan kesinambungan pasokan bahan baku. Selain tebu, bioetanol nasional juga dikembangkan dengan memanfaatkan potensi jagung dan ubi kayu.
Mentan Amran juga telah menggandeng 44 bupati dari berbagai wilayah Indonesia untuk mempercepat pengembangan bioetanol berbasis tebu, ubi kayu, dan jagung. Para kepala daerah tersebut menyatakan dukungan dan kesiapan menyiapkan lahan sesuai potensi wilayah masing-masing.
“Bupati-bupati ada 44 sangat mendukung program ini. Insyaallah kita akan mulai bergerak sekarang dan tahun depan mudah-mudahan sudah mulai tanam,” ujarnya.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan bahan baku bagi industri bioetanol, tetapi juga membuka ruang pemanfaatan sumber daya pertanian dalam negeri untuk mendukung kemandirian energi nasional.
