Rayakan 29 Tahun Perjalanan BSN, Refleksi Meningkatkan Daya Saing Global
Jakarta - Badan Standardisasi Nasional (BSN) mencatat penguatan signifikan Infrastruktur Mutu Nasional dengan capaian peringkat ke-23 dunia dalam Global Quality Infrastructure Index (GQII) 2025. Posisi ini naik empat peringkat dibandingkan sebelumnya dan menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN.
Capaian tersebut menunjukkan peningkatan kualitas sistem standardisasi, akreditasi, dan metrologi yang menjadi fondasi kepercayaan dalam perdagangan domestik maupun internasional. Infrastruktur mutu dinilai berperan penting dalam menjamin keamanan, keselamatan, kesehatan, serta perlindungan lingkungan atas produk yang beredar di masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, mengatakan mutu kini menjadi faktor utama dalam persaingan global. Produk yang tidak memenuhi standar akan sulit bersaing di pasar internasional. “Di tengah arus globalisasi dan persaingan yang semakin ketat, mutu produk tidak lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi syarat utama untuk bertahan dan berdaya saing,” ujarnya di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, Infrastruktur Mutu Nasional terdiri dari tiga pilar utama, yakni standardisasi, akreditasi, dan metrologi. Ketiganya membentuk sistem terpadu yang memastikan produk memenuhi persyaratan mutu dan keselamatan.
Berdasarkan GQII 2025, Indonesia mencatat kinerja kuat di ketiga pilar tersebut, dengan posisi ke-38 dunia untuk standardisasi, ke-32 dunia untuk metrologi, dan peringkat ke-4 dunia untuk akreditasi. Pada pilar akreditasi, Indonesia bahkan menempati posisi pertama di Asia, melampaui sejumlah negara maju.
Capaian tersebut mencerminkan penguatan sistem penilaian kesesuaian nasional, termasuk laboratorium pengujian, lembaga inspeksi, dan lembaga sertifikasi yang telah terakreditasi secara internasional.
Selain berdampak pada industri besar, penguatan Infrastruktur Mutu Nasional juga dirasakan pelaku usaha mikro dan kecil (UMK). Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang didukung sistem pengujian dan sertifikasi meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk lokal.
Data BSN menunjukkan, dari 5.940 jenis produk yang beredar di Indonesia, sebanyak 1.099 jenis atau sekitar 18,5 persen telah menerapkan SNI. Sebanyak 204 produk di antaranya berhasil menembus pasar ekspor.
Sepanjang 2025, sebanyak 19 UMK binaan BSN juga berhasil masuk pasar internasional setelah mengadopsi SNI. Hal ini menunjukkan standar tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan domestik, tetapi juga sebagai pintu masuk ke pasar global.
Momentum peringatan 29 tahun BSN sejak berdiri pada 26 Maret 1997 menjadi refleksi penguatan peran lembaga tersebut dalam membangun kepercayaan terhadap produk nasional.
BSN menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan kementerian, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan daya saing industri, memperluas akses pasar, serta memperkuat perlindungan konsumen melalui standar yang andal.
