Dukung Sekolah Sehat, Tim Pengabdi UNM Hadirkan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Cerdas di SMKN 9 Makassar
MAKASSAR — Sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan lingkungan pendidikan sekaligus hilirisasi hasil riset perguruan tinggi, tim dosen dari Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMK Negeri 9 Makassar, Jl. Salodong, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.
Melalui program yang didanai skema PNBP Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNM Tahun Anggaran 2026 ini, tim pengabdi menghadirkan stasiun pemantau kualitas udara cerdas berbasis Internet of Things (IoT) dan komputasi awan (cloud), sekaligus melatih para siswa vokasi untuk merakit perangkat pemantau polusi secara mandiri.
Lokasi SMKN 9 Makassar yang berada di koridor Jl. Salodong berdekatan langsung dengan kawasan industri dan menjadi jalur perlintasan utama kendaraan logistik berat. Aktivitas tersebut menghasilkan fluktuasi debu serta emisi gas buang yang berisiko memengaruhi kesehatan pernapasan dan konsentrasi belajar ratusan siswa.
Dalam program yang digagas bersama Ketua Tim Ganggang Canggi Arnanto, S.Pd., M.Pd. ini, peneliti bidang kualitas udara UNM, Putri Ida Sunaryathy Samad, S.T., M.Si., Ph.D., tampil memandu jalannya kegiatan sekaligus memaparkan arah program di hadapan jajaran pimpinan, guru, dan siswa SMKN 9 Makassar.
"Program ini kami inisiasi untuk mendukung terciptanya lingkungan sekolah sehat (Adiwiyata) yang berbasis data riil (evidence-based). Melalui pendekatan Citizen Science dan Learning by Doing, para siswa jurusan teknik tidak hanya kami latih merakit perangkat cerdas, tetapi juga diedukasi tentang proses kalibrasi data sains agar informasi kualitas udara yang diperoleh benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan," jelas Putri Ida Sunaryathy Samad saat membuka sesi pelatihan.
Dalam rangkaian pelatihan, sebanyak 25 siswa kejuruan teknik dibimbing secara intensif untuk merakit mikrokontroler ESP32, sensor gas polutan MQ-135, modul display LCD, serta alarm peringatan (buzzer). Siswa juga diajak melakukan kalibrasi instrumen dengan mencocokkan hasil pembacaan alat rakitan mereka terhadap wahana drone (IoT-UAV) pemantau polusi udara hasil riset fundamental tim dosen pengabdi yang dijadikan sebagai standar pembanding (Gold Standard).
Seluruh data konsentrasi gas polutan yang terbaca kemudian ditransmisikan secara nirkabel dan real-time ke basis data Firebase, sehingga grafik kondisi udara lingkungan sekolah dapat dipantau langsung kapan saja melalui smartphone maupun komputer.
Lebih lanjut, Putri Ida Sunaryathy Samad menegaskan urgensi sistem deteksi dini (Early Warning System) ini bagi keselamatan seluruh warga sekolah.
"Paparan polusi udara mikro di sekitar kawasan industri sangat dinamis, terutama saat jam padat operasional truk logistik di pagi dan sore hari. Dengan adanya stasiun pemantau 'Eco-Cloud' yang terpasang di area sekolah, pihak guru dapat segera mengambil langkah preventif berbasis bukti, misalnya mewajibkan penggunaan masker atau mengalihkan aktivitas olahraga ke dalam ruangan ketika indikator udara menunjukkan status tidak sehat," tambahnya.
Pengembangan sistem dan desain instruksional program ini turut dirancang bersama Dr. Ridwansyah, S.T., M.T., dengan didampingi langsung oleh dua mahasiswa teknik UNM, Muh. Nurhidayat dan Muh. Nughie Ramadhan, yang memandu siswa dalam proses perakitan teknis dan pemrograman (coding).
Pihak SMKN 9 Makassar menyambut hangat inovasi ini. Kepala SMKN 9 Makassar, Sugiyono, S.ST.Pi, bersama Ketua Program Keahlian Teknik Elektronika Industri (TEI), Ikhwan, S.Pd., serta guru pendamping, Nurjannah, S.Pd. dan Nurhikmah, S.Pd., menyatakan komitmennya untuk mengadopsi sistem pemantau kualitas udara cerdas ini ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) protokol kesehatan sekolah sebagai wujud keberlanjutan program ini.
