Kisah Sukses H Badris Salam: Dari Buruh Bangunan Jadi Raja Pengembang Rumah Subsidi
MAKASSAR — Tidak ada jalan pintas menuju puncak. Adagium klasik ini merangkum sempurna rekam jejak H. Badris Salam di industri properti Tanah Air. Jauh sebelum duduk di kursi empuk sebagai Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Selatan, tangan Badris lebih dulu akrab dengan semen, pasir, dan debu proyek.
Siapa sangka, pria yang kini dikenal sebagai salah satu pengembang rumah subsidi paling diperhitungkan di Sulsel ini, memulai semuanya dari titik terendah: seorang buruh bangunan.
Merintis dari Bawah: Dari Kuli hingga Subkontraktor
Keterlibatan H. Badris Salam di dunia konstruksi bukan kebetulan yang direncanakan matang. Ia sekadar mengikuti jejak sang paman yang lebih dulu makan asam garam sebagai kontraktor di Makassar.
Dari pekerjaan kasar sebagai kuli, Badris tak sekadar memeras keringat. Ia menyerap ilmu. Matanya awas mengamati seluk-beluk konstruksi, perlahan mengangkat derajatnya menjadi tukang, naik kelas menjadi mandor, hingga akhirnya dipercaya sebagai subkontraktor.
Jam terbangnya melesat saat ia mulai dilibatkan dalam proyek-proyek raksasa milik perusahaan ternama seperti Bumi Karsa dan Bosowa. Namun, insting bisnisnya mengatakan: ia tidak boleh berhenti hanya sebagai pekerja.
Nekat Jadi Developer Bermodal Sistem "Bagi Hasil"
Tahun 2007 menjadi tonggak sejarah bagi H. Badris Salam. Ia memberanikan diri terjun ke bisnis properti sebagai developer. Kendalanya klasik: tidak ada modal. Namun, di sinilah kecerdasan jalanan (street smart) seorang mantan mandor berbicara.
Ia bermanuver dengan menawarkan pola kerja sama lahan. Kesepakatan pertamanya terjalin dengan seorang pengusaha bernama Jefry yang memiliki lahan di kawasan Sudiang, Jalan Goriyya, Makassar.
"Kami hanya kerja sama. Mereka punya lahan, kami punya bangunan. Setelah kita bangun, kami jual. Diberikan haknya untuk lahan, saya ambil untuk bangunannya, profit dibagi sekian persen," kenang Badris membeberkan strategi awalnya.
Strategi tanpa modal besar ini terbukti jitu. Dari Sudiang, pundi-pundi rupiahnya terkumpul. Badris kemudian mengekspansi sayapnya dengan menggarap lahan seluas dua hektare di kawasan Barombong, yang sukses diserap pasar melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Terjerembap di Sinjai: "Kami Kembali ke Nol"
Layaknya rollercoaster, perjalanan bisnis H. Badris Salam tak luput dari hantaman krisis. Kepercayaan diri yang tinggi membawanya pada sebuah manuver berisiko di tahun 2012. Ia mengakuisisi lahan seluas 12 hektare di Sinjai untuk disulap menjadi kawasan perumahan komersial.
Ekspektasinya, rumah-rumah itu akan ludes terjual secepat di Makassar. Realitasnya? Pasar Sinjai belum siap.
Penjualan tersendat, modal miliaran rupiah tertahan di bangunan fisik yang tak kunjung menjadi uang. Direktur Utama PT Bumi Pundi Karsa ini harus menelan pil pahit.
"Saat itu kami dua tahun tidak pernah ada pemasukan. Padahal kita sudah keluarkan biaya untuk pembebasan lahan. Jadi kita kembali nol lagi," ungkapnya getir.
Titik Balik: Penyelamatan Bank dan Poros Rumah Subsidi
Di tengah himpitan cash flow yang berdarah-darah, sebuah tawaran dari Bank BTN Syariah datang bak oase di padang pasir. Pihak bank menyarankan agar proyek mangkrak tersebut diubah haluannya (pivot) menjadi pengembang rumah subsidi.
Didorong oleh momentum program "Satu Juta Rumah" gagasan pemerintah, Badris menyetujui saran tersebut. Ia menyiapkan 100 unit tahap awal. Sebanyak 20 unit pertama langsung diproses KPR-nya. Arus kas (cash flow) perusahaan perlahan membaik. Bisnisnya bangkit dari mati suri.
Keberhasilan proyek subsidi di Sinjai menjadi cetak biru (blueprint) bagi Badris untuk menggurita ke berbagai daerah. Kini, bendera perusahaannya berkibar di Bone, Bulukumba, Bantaeng, Maros, Gowa, hingga Palopo.
Portofolio bisnisnya pun semakin matang. Saat ini, 70 persen proyeknya berfokus pada rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah, sementara 30 persen sisanya menyasar segmen komersial elit, seperti di kawasan belakang Kantor Gubernur Sulsel, BTP Makassar, dan Gowa.
3 Kunci Sukses ala H. Badris Salam
Bagi H. Badris Salam, pengalaman memegang cetok dan mengaduk semen di masa lalu adalah sekolah bisnis terbaiknya. Menutup kisahnya, ia membagikan tiga fondasi utama yang membuat kerajaannya tetap kokoh:
• Kerja Keras & Cerdas: Tidak sekadar berkeringat, tapi tahu cara mencari celah dan solusi di tengah kebuntuan finansial.
• Perluas Jaringan (Networking): Bisnis properti adalah bisnis kepercayaan. Kolaborasi dengan pemilik lahan dan perbankan adalah urat nadinya.
• Keikhlasan: "Dengan adanya keikhlasan, kita bisa mendapatkan kesuksesan. Dan selalu, kita harus bekerja dengan cerdas," pungkasnya.
Dari kuli yang bermandikan peluh hingga menjadi bos properti yang menyediakan atap bagi ribuan keluarga. Kisah H. Badris Salam adalah bukti nyata; fondasi sukses yang paling kuat justru dibangun dari kerasnya jalanan.
